Rabu, 23 April 2014

Resep dan Cara Memasak Kepiting Saos Pedas

Kepiting memang sekarang ini tengah menjadi primadona disetiap restoran besar. Baik di hotel-hotel ataupun di tempat rekreasi kepiting tetap menjadi menu utama. Harganya pun juga tidak main-main, apalagi kalau sudah dimasak oleh chef yang kenamaan. Dijamin harganya akan selangit, karena memang jaminan rasa sudah terbukti.
Disamping itu umasakan ini bisa didampingi dengan kripik yang gurih serta renyah, sobat bisa membuatnya sendiri silahkan dibaca pada laman resep dan cara membuat kripik tempe renyah, juga bisa disandingkan dengan makanan penutup brownies dengan resep di Resep Brownies Dan Cara Membuat Brownies.
7cca4f7c03d2e8663aab4898e58d141a_kepiting-saos-pedas
Bagi kalian yang ingin menikmati kepiting tidaklah harus pergi ke restoran besar untuk menyantapnya. Kalian bisa membuatnya sendiri di rumah, tinggal siapin segala sesuatunya dan resepnya lalu kerjakan. Memang banyak dari kita yang masih bingung bagaimana cara memasak kepiting tersebut. Untuk membantu kalian memasak kepiting kali ini kami akan menuliskan resep dan cara memasak kepiting saos pedas untuk kalian, silahkan disimak :
>> Bahan :
- 2 ekor kepiting
- 2 siung bawang putih, cincang
- 4 buah cabai merah, iris
- 200 ml air kaldu
- 1 sendok teh jahe parut
- 5 sendok makan saus tomat
- 2 sendok makan saus sambal
- 1 sendok makan kecap asin
- 1/2 sendok teh minyak wijen
- 1/2 sendok teh merica bubuk
- 1 sendok makan tepung maizena, tambahkan sedikit air
- 1 batang bawang prai, iris
- Minyak goreng
- Garam secukupnya
- Gula pasir secukupnya
>> Cara Memasak Kepiting Saos Pedas:
- Yang pertama tentu saja bersihkan dulu kepiting sampai benar-benar bersih.
- Setelah itu, gorenglah kepiting itu hingga berubah warna menjadi kemerahan, kemudian angkat kemudian tiriskan.
- Kemudian tumis bawang putih, jahe dan cabai merah hingga berbau harum. Kalau bumbu sudah harum, masukkan saus tomat , saus sambal, kecap asin , minyak wijen dan kaldu. Kemudian masak sampai mendidih.
- Setelah itu masukkan kepiting yang telah digoreng tadi sambil di aduk.
- Kemudian tambahkan garam, gula pasir dan merica bubuk, aduk sampai merata.
- Kecilkan api dan masak sampai matang dan bumbu bisa meresap.
- Kentalkan kuah dengan larutan tepung maizena, tambahkan daun bawang . Masak sebentar.
- Angkat dan sajikan.

http://tipskecantikanwanita.blogdetik.com/resep-dan-cara-memasak-kepiting-saos-pedas/

Cara Menjinakkan Sugar Glider

Cara menjinakkan Sugar Glider: Setelah kamu memutuskan serius untuk memelihara Sugar Glider. Hal pertama yang dilakuin tentu ngebiasain hewan Sugar Glider beradaptasi dengan kamu. 

  • Cara simpel pertama adalah dengan bau keringat bada kita. Yay~ Usahakan terus Sugar Glider itu mengingat-ingat bau keringat kita. Hewan ini termasuk peka dalam ingatan loh. Dengan memakai semisal sapu tangan bekas keringat kita yang dimasukkan ke dalam kandang sugar glider, ini bisa mengenalkan kita kepadanya. Atau bisa juga membawa SG ini ke mana pun dengan memasukkan bonding pouch.
  • Yang kedua prosesnya ialah memberi makan SG dengan tangan kita. Ngasih makan sugar glider secara perlahan-lahan, jangan terlalu cepat ya. Atau menarik tangan secara cepat saat memasukkan makanan ke dalam kandang. Karena itu bisa diartikan SG kalau kita takut padanya.
  • Dan cara yang biasanya ngebikin SG lebih jinak kepada kita adalah membiarkan SG menggigit. Memang butuh keberanian. Sodorin ibu jari dengan posisi kuku terbalik deh. SG nantinya akan menggigit ibu jari kita. Ulangi terus prosesnya tiap hari. Nanti lama kelamaan SG akan merasa bosan untuk menggigit ibu jari kita.

Nah. Kalau sugar glider sudah tenang dan terbiasa dengan kita. SG biasanya akan bisa diajak bermain dengan kita.

Makanan Sugar Glider:  
  • Beri makan bubur bayi rasa buah pisang, dibuat kental. Bubur bayi yang terlalu cair akan membuat sugar glider mengalami diare.
  • Setiap seminggu sekali beri buah yang rasanya manis, seperti pepaya, pisang, rambutan, atau lengkeng.
  • Setiap sebulan sekali beri jangkrik dan serangga untuk menjaga asupan kalsium dan protein sugar glider.
Catatan penting ya. Sugar Glider itu cepat bosan dengan menu makanannya. Jadi ya memang harus variatif gitu untuk makanan sugar glider. Dan teliti juga makanan apa yang dia suka.

Kandang Sugar Glider:
  • Sugar Glider (SG) sangat menyukai aktivitas memanjat dan melompat, kandang semakin besar dan tinggi akan semakin bagus. Di dalam kandang sebaiknya diletakkan cabang/dahan-dahan pohon agar SG bisa memanjat dan bermain-main.
  • Letakkan juga kotak sarang agar SG bisa bersembunyi. Selain itu, kandang bisa dilengkapi dengan mainan seperti wheel untuk hamster dan mainan-mainan lainnya agar SG bisa bermain-main.
  • Hindari penempatan di ruangan ber-AC. Kalau terpaksa di ruangan ber-AC, taruhlah pouch / hidding biar hangat.
  • Sering ajak main ke luar kandang apabila sudah jinak.

http://www.raskancut.com/2013/06/cara-perawatan-menjinakkan-sugar-glider.html

Selasa, 22 April 2014

R.A kartini - in english


Raden Ajeng Kartini
COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Raden Ajeng Kartini TMnr 10018776.jpg
Portrait of Raden Ajeng Kartini (collectionTropenmuseum
Born21 April 1879
JeparaCentral JavaDutch East Indies (Indonesia)
Died17 September 1904 (aged 25)
RembangCentral JavaDutch East Indies (Indonesia)
Other namesRaden Ajeng Kartini
Known forWomen's emancipation; national heroine
ReligionIslam
Spouse(s)Raden Adipati Joyodiningrat
Raden Ayu Kartini, (21 April 1879 – 17 September 1904), or sometimes known as Raden Ajeng Kartini, was a prominentJavanese and an Indonesian national heroine. Kartini was a pioneer in the area of women's rights for Indonesians

Biography

Kartini was born into an aristocratic Javanese family when Java was part of the Dutch colony of the Dutch East Indies. Kartini's father, Sosroningrat, became Regency Chief of Jepara. Kartini's father, was originally the district chief of Mayong. Her mother, Ngasirah was the daughter of Madirono and a teacher of religion in Teluwakur. She was his first wife but not the most important one. At this time,polygamy was a common practice among the nobility. She also wrote the Letters of a Javanese Princess. Colonial regulations required a Regency Chief to marry a member of the nobility. Since Ngasirah was not of sufficiently high nobility,[2] her father married a second time to Woerjan (Moerjam), a direct descendant of the Raja of Madura. After this second marriage, Kartini's father was elevated to Regency Chief of Jepara, replacing his second wife's own father, Tjitrowikromo.
Kartini was the fifth child and second eldest daughter in a family of eleven, including half siblings. She was born into a family with a strong intellectual tradition. Her grandfather, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, became a Regency Chief at the age of 25 while Kartini's older brother Sosrokartono was an accomplished linguist. Kartini's family allowed her to attend school until she was 12 years old. Here, among other subjects, she learnt to speak Dutch, an unusual accomplishment for Javanese women at the time.[3] After she turned 12 she was 'secluded' at home, a common practice among Javanese nobility, to prepare young girls for their marriage. During seclusion girls were not allowed to leave their parents' house until they were married, at which point authority over them was transferred to their husbands. Kartini's father was more lenient than some during his daughter's seclusion, giving her such privileges as embroidery lessons and occasional appearances in public for special events.
During her seclusion, Kartini continued to educate herself on her own. Because she could speak Dutch, she acquired several Dutch pen friends. One of them, a girl by the name ofRosa Abendanon, became a close friend. Books, newspapers and European magazines fed Kartini's interest in European feminist thinking, and fostered the desire to improve the conditions of indigenous Indonesian women, who at that time had a very low social status.
Kartini's reading included the Semarang newspaper De Locomotief, edited by Pieter Brooshooft, as well as leestrommel, a set of magazines circulated by bookshops to subscribers. She also read cultural and scientific magazines as well as the Dutch women's magazine De Hollandsche Lelie, to which she began to send contributions which were published. Before she was 20 she had read Max Havelaar and Love Letters by Multatuli. She also read De Stille Kracht (The Hidden Force) by Louis Couperus, the works ofFrederik van EedenAugusta de Witt, the Romantic-Feminist author Goekoop de-Jong Van Eek and an anti-war novel by Berta von SuttnerDie Waffen Nieder! (Lay Down Your Arms!). All were in Dutch.
Kartini's concerns were not only in the area of the emancipation of women, but also other problems of her society. Kartini saw that the struggle for women to obtain their freedom, autonomy and legal equality was just part of a wider movement.
Kartini with Joyodiningrat
Kartini's parents arranged her marriage to Joyodiningrat, the Regency Chief of Rembang, who already had three wives. She was married on the 12 November 1903. This was against Kartini's wishes, but she acquiesced to appease her ailing father. Her husband understood Kartini's aims and allowed her to establish a school for women in the east porch of the Rembang Regency Office complex. Kartini's only son was born on 13 September 1904. A few days later on 17 September 1904, Kartini died at the age of 25. She was buried in Bulu Village, Rembang.
Inspired by R.A. Kartini's example, the Van Deventer family established the R.A. Kartini Foundation which built schools for women, 'Kartini's Schools' in Semarang in 1912, followed by other women's schools in SurabayaYogyakartaMalangMadiunCirebon and other areas.
Commemoration of Kartini Day in 1953
In 1964, President Sukarno declared R.A. Kartini's birth date, 21 April, as 'Kartini Day' - an Indonesian national holiday. This decision has been criticised. It has been proposed that Kartini's Day should be celebrated in conjunction with Indonesian Mothers Day, on 22 December so that the choice of R.A. Kartini as a national heroine would not overshadow other women who, unlike R.A. Kartini, took up arms to oppose the colonisers.
In contrast, those who recognise the significance of R.A. Kartini argue that not only was she a feminist who elevated the status of women in Indonesia, she was also a nationalist figure, with new ideas, who struggled on behalf of her people and played a role in the national struggle for independence.

Letters

After Raden Adjeng Kartini died, Mr J. H. Abendanon, the Minister for Culture, Religion and Industry in the East Indies, collected and published the letters that Kartini had sent to her friends in Europe. The book was titled Door Duisternis tot Licht (Out of Dark Comes Light) and was published in 1911. It went through five editions, with some additional letters included in the final edition, and was translated into English by Agnes L. Symmers and published under the title Letters of a Javanese Princess.
The publication of R.A. Kartini's letters, written by a native Javanese woman, attracted great interest in the Netherlands and Kartini's ideas began to change the way the Dutch viewed native women in Java. Her ideas also provided inspiration for prominent figures in the fight for Independence.
There are some grounds for doubting the veracity of R.A. Kartini's letters. There are allegations that Abendanon made up R.A. Kartini's letters. These suspicions arose because R.A. Kartini's book was published at a time when the Dutch Colonial Government were implementing 'Ethical Policies' in the Dutch East Indies, and Abendanon was one of the most prominent supporters of this policy. The current whereabouts of the vast majority of R.A. Kartini's letters is unknown. According to the late Sulastin Sutrisno, the Dutch Government has been unable to track down J. H. Abendanon's descendants.

Ideas... Condition of Indonesian women

In her letters, Raden Adjeng Kartini wrote about her views of the social conditions prevailing at that time, particularly the condition of native Indonesian women. The majority of her letters protest the tendency of Javanese Culture to impose obstacles for the development of women. She wanted women to have the freedom to learn and study. R.A. Kartini wrote of her ideas and ambitions, including Zelf-ontwikkeling, Zelf-onderricht, Zelf-vertrouwen, Zelf-werkzaamheid and Solidariteit. These ideas were all based on Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid, that is, belief in God, wisdom, and beauty, along with Humanitarianisme (humanitarianism) and Nationalisme (nationalism).
Kartini's letters also expressed her hopes for support from overseas. In her correspondence with Estell "Stella" Zeehandelaar, R.A. Kartini expressed her desire to be like a European youth. She depicted the sufferings of Javanese women fettered by tradition, unable to study, secluded, and who must be prepared to participate in polygamous marriages with men they don't know.

Vegetarian lifestyle

It is known from her letters dated October 1902 to Abendanon and her husband that at the age of 23, Raden Adjeng Kartini had a mind to live a vegetarian life. "It has been for sometime that we are thinking to do it (to be a vegetarian), I have even eaten only vegetables for years now, but I still don't have enough moral courage to carry on. I am still too young." R.A. Kartini once wrote.
She also emphasized the relationship between this kind of lifestyle with religious thoughts. She also quoted, "Living a life as vegetarian is a wordless prayer to the Almighty."[4]

Further studies and teaching

Raden Adjeng Kartini loved her father deeply although it is clear that her deep affection for him became yet another obstacle to the realisation of her ambitions. He was sufficiently progressive to allow his daughters schooling until the age of 12 but at that point the door to further schooling was firmly closed. In his letters, her father also expressed his affection for R.A. Kartini. Eventually, he gave permission for R.A. Kartini to study to become a teacher in Batavia (now Jakarta), although previously he had prevented her from continuing her studies in the Netherlands or entering medical school in Batavia.
R.A. Kartini's desire to continue her studies in Europe was also expressed in her letters. Several of her pen friends worked on her behalf to support Kartini in this endeavour. And when finally Kartini's ambition was thwarted, many of her friends expressed their disappointment. In the end her plans to study in the Netherlands were transmuted into plans to journey to Batavia on the advice of Mrs. Abendanon that this would be best for R.A. Kartini and her younger sister, R.Ayu Rukmini.
Nevertheless, in 1903 at the age of 24, her plans to study to become a teacher in Batavia came to nothing. In a letter to Mrs. Abendanon, R.A. Kartini wrote that the plan had been abandoned because she was going to be married... "In short, I no longer desire to take advantage of this opportunity, because I am to be married..". This was despite the fact that for its part, the Dutch Education Department had finally given permission for R.A. Kartini and R.Ay. Rukmini to study in Batavia.
As the wedding approached, R.A. Kartini's attitude towards Javanese traditional customs began to change. She became more tolerant. She began to feel that her marriage would bring good fortune for her ambition to develop a school for native women. In her letters, R.A. Kartini mentioned that not only did her esteemed husband support her desire to develop the woodcarving industry in Jepara and the school for native women, but she also mentioned that she was going to write a book. Sadly, this ambition was unrealised as a result of her premature death in 1904 at the age of 25.

Kartini Day

Sukarno's Old Order state declared 21 April as Kartini Day to remind women that they should participate in "the hegemonic state discourse of perkembangan (development)".[5]After 1965, however, Suharto's New Order state reconfigured the image of Kartini from that of radical women's emancipator to one that portrayed her as dutiful wife and obedient daughter, "as only a woman dressed in a kebaya who can cook."[6] On that occasion, popularly known as Hari Ibu (Mother) Kartini or Mother Kartini Day, "young girls were to wear tight, fitter jackets, batik shirts, elaborate hairstyles, and ornate jewelry to school, supposedly replicating Kartini's attire but in reality wearing an invented and more constricting ensemble than she ever did."[7]
"Ibu Kita Kartini" by W.R. Supratman

X:173
L:1/4
M:4/4
K:C
Q:1/4=120
C3/2D/2EF|G3/2E/2C2|A3/2c/2BA|G3|\
F3/2A/2GF|E2C2|D3/2F/2ED|C3|\
F3/2E/2FA|G/2A/2G/2E/2CE|DEFG|E3|\
F3/2E/2FA|G/2A/2G/2E/2CE|DFB,D|C3|

see also 

Notes

  1. Jump up
    ^ Raden Ayu was a title borne by married women of the priyayi or Javanese nobles of the Robe class
  2. Jump up
  3. Jump up
    ^ "RA. Kartini". Guratan Pena. April 27, 2006. Retrieved 2013-03-17.
  4. Jump up
    ^ Lukas Adi Prasetya (2010-04-21). "Siapa Menyangka RA Kartini Vegetarian". Kompas.com. Retrieved 2013-03-17.
  5. Jump up
  6. Jump up
    ^ Yulianto, Vissia Ita (21 April 2010). "Is celebrating Kartini’s Day still relevant today?"The Jakarta Post. Retrieved 15 March 2013.
  7. Jump up
    ^ Ramusack, Barbara N. (2005). "Women and Gender in South and Southeast Asia". In Bonnie G. Smith. Women's History in Global Perspective. University of Illinois Press. pp. 101–138 [129]. ISBN 978-0252029974. Retrieved 15 March 2013.

References

  • Raden Adj. Kartini (1912), Door duisternis tot licht, with a foreword by J.H. Abendanon, The Hague
  • M.C. Van Zeggelen (1945), "Kartini", J.M. Meulenhoff, Amsterdam (in Dutch)
  • Raden Adjeng Kartini (1920), Letters of a Javanese princess, translated by Agnes Louise Symmers with a foreword by Louis Couperus, New York: Alfred A. Knopf, ISBN 0-8191-4758-3 (1986 edition), ISBN 1-4179-5105-2 (2005 edition)
  • M.Vierhout (1942), "Raden Adjeng Kartini", Oceanus, Den Haag (in Dutch)
  • F.G.P. Jaquet (red.), Kartini (2000); Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya. 3rd edition. Jakarta: Djambatan, xxii + 603 pp.
  • Elisabeth Keesing (1999), Betapa besar pun sebuah sangkar; Hidup, suratan dan karya Kartini. Jakarta: Djambatan, v + 241 pp.
  • J. Anten (2004), Honderd(vijfentwintig) jaar Raden Adjeng Kartini; Een Indonesische nationale heldin in beeld, Nieuwsbrief Nederlands Fotogenootschap 43: 6-9.

R.A Kartini

Ana Listiya Wardani
10212721 - 2ea20
Biografi R.A Kartini - Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang 
tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Referensi :
- http://chrissanta.wordpress.com
- http://www.dapunta.com/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html