Selasa, 31 Maret 2015

Tugas Softskill (Bahasa Indonesia 2)

Ana Listiya Wardani - 3EA20 – 10212721

1. Penalaran
Pengertian Penalaran
a. cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran: kepercayaan takhayul serta ~ yg tidak logis haruslah dikikis habis;
b. hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dng perasaan atau pengalaman;
c. proses mental dl mengembangkan pikiran dr beberapa fakta atau prinsip;
Penalaran berasal dari kata nalar yang mempunyai arti pertimbangan tentang baik buruk, kekuatan pikir atau aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis. Sedangkan penalaran yaitu cara menggunakan nalar atau proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. Istilah penalaran sebagai terjemah dari bahasa Inggris reasoning menurut kamus The Random House Dictionary berarti the act or process of a person who reasons (kegiatan atau proses seseorang yang berpikir). Sedangkan reason berarti the mental powers concerned with forming conclusions, judgements or inference (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan kesimpulan dan penilaian). Menurut Fadjar Shodiq, penalaran adalah suatu kegiatan berpikir khusus, dimana terjadi suatu penarikan kesimpulan, dimana pernyataan disimpulkan dari beberapa premis. Matematika dan proses penalaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Matematika dapat dipahami melalui proses penalaran, dan penalaran dapat dilatih melalui belajar matematika. Keraf berpendapat bahwa Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan. Bakry menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Suriasumantri mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan. Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan kata lain, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis.

Proposisi
1 rancangan usulan; 2 Ling ungkapan yg dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar-tidaknya;
 -- eksklusif proposisi yg di dalamnya terdapat kata-kata hanya, sendiri, tak lain, tak satu pun, kecuali
Proposisi adalah satu tutur atau pernyataan yang melukiskan beberapa keadaan yang belum tentu benar atau salah dalam bentuk sebuah kalimat berita. Proposisi adalah istilah yang dipergunakan dalam analisis logika. Keadaan dan peristiwa-peristiwa itu pada umumnya melibatkan pribadi atau orang yang dirujuk oleh ujaran dalam kalimat. Kebenaran sebuah proposisi berkorespondensi dengan fakta. Sebuah proposisi yang salah tidak berkorespondensi dengan fakta.
Proposisi terdiri atas empat unsur, dua di antaranya merupakan materi pokok proposisi, sedangkan dua yang lain sebagai hal yang menyertainya. Empat unsur yang dimaksudkan adalah term sebagai subjek, term sebagai predikat, kopula, dan kuantor. 
Bentuk umum dan proposisi adalah sebagai berikut:
Kuantor + Subjek + Kopula + Predikat
Jenis-jenis proposisi secara sederhana dapat dibedakan atas empat macam, yaitu sebagai berikut:
  • Proposisi Universal Afirmatif: Proposisi universal afirmatif adalah pernyataan bersifat umum yang membenarkan adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan “semua S adalah P”.
  • Proposisi Universal Negatif: Proposisi universal negatif adalah pernyataan yang bersifat umum yang mengingkari adanya hubungan subjek dengan predikat. Dirumuskan “semua S bukan P”
  • Proposisi Partikular Afirmatif: Proposisi partikular afirmatif adalah pernyataan bersifat khusus yang membenarkan adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan “sebagian S adalah P”
  • Proposisi Partikular Negatif: Proposisi partikular negatif adalah pernyataan bersifat khusus yang mengingkari adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan “sebagian S bukan P”

Inferensi dan Implikasi        
Inferensi
inferensi /in·fe·ren·si/ /inférénsi/ n simpulan; yg disimpulkan.

Inferensi merupakan intisari informasi baru yang bersifat implisit dan eksplisit dari informasi yang diberikan (Cummings, 1999). Proses inferensi terjadi ketika dalam proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri konteks pada dasarnya merupakan proses inferensi. Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwaa konteks yang benar untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya.Inferensi terdiri dari tiga hal, yaitu inferensi deduktif, inferensi elaboratif, dan inferensi percakapan (Cummings, 1999). Lebih detail dijelaskan bahwa inferensi deduktif memiliki tiga tipe silogisme, yaitu ‘all’ dan ‘some’ baik afirmatif, maupun negatif. Inferensi deduktif memiliki kaitan dengan makna semantik. Implikatur percakapan, pra-anggapan, dan sejumlah konsep lain memuat kegiatan inferensi. inferensi dapat diperoleh dari kaidah deduktif logika dan dari makna semantik item leksikal. Inferensi menggunakan penalaran deduksi dalam kegiatan penalaran dan interpretasi ujaran. Inferensi elaboratif sangat terkait dengan pengetahuan ekstralinguistik penutur bahasa. Inferensi ini menemukan adanya pengaruh pengetahuan dan informasi kognisi. Pada tahun 1991, pakar inteligensi artifisial  Johnson-Laird dan Byrne (dalam Cummings, 1999) merumuskan tahap deduksi dalam teori model-model mental adalah (a) premis dan pengetahuan umum, (b) pemahaman, (c) model, (d) deskripsi, (e) simpulan terduga, (f)validasi, dan (g) simpulan valid.
Inferensi elaboratif memiliki peran dalam interpretasi ujaran. Cummings (1999) menggambarkan adanya integrasi interpretasi ujaran dari tiga subkomponen yang berpa abstrak (pengetahuan dunia), abstrak (pengetahuan komunikatif), dan fungsional (interferensi elaboratif). Namun oleh ahli pragmatik, kajian terhadap kelompok-kelompok inferensi ini bisa saja diabaikan karena para pakar inferensi elaboratif sebagian besar dari kalangan psikologi. Pakar pragmatik mengabaikan inferensi elaboratif tersebut dengan alasan disiplin ilmu.
ika ditinjau kembali cakupan bahasan pragmatik dari beberapa ahli, akan diperoleh gambaran yang lebih dalam lagi.. Hal ini penting untuk memperdalam wawasan untuk menanggapi polemik disipliner inferensi dalam kajian interpretasi pragmatik atau inferensi elaboratif antarpakar psikologi dan pragmatik. Akhirnya muncul perlawanan inferensial elaboratif dengan interpretasi pragmatik.

Implikasi
implikasi /im·pli·ka·si/ n 1 keterlibatan atau keadaan terlibat: -- manusia sbg objek percobaan atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentingannya; 2 yg termasuk atau tersimpul; yg disugestikan, tetapi tidak dinyatakan: apakah ada -- dl pertanyaan itu?;

berimplikasi /ber·im·pli·ka·si/ v mempunyai implikasi; mempunyai hu-bungan keterlibatan: kepentingan umum ~ pd kepentingan pribadi sbg anggota masyarakat;

mengimplikasikan /meng·im·pli·ka·si·kan/ v melibatkan;

terimplikasi /ter·im·pli·ka·si/ v termasuk atau tersimpul; terlibat
Pada dasarnya implikasi bisa kita definisikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian. Akan tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di dalamnya. Di dalam konteks penelitian sendiri, implikasi bisa di lihat. Apabila dalam sebuah penelitian kita mempunyai kesimpulan misalnya "A", "Manusia itu bernafas". Maka "Manusia itu bernafas" yang kita sebut dengan implikasi penelitian. Untuk contohnya, dalam hasil penelitian kita menemukan bahwa siswa yang di ajar dengan metode "A" lebih kreatif serta memiliki skill yang lebih baik.
Dengan demikian dengan menggunakan metode belajar "A" kita bisa mengharapkan siswa menjadi lebih kreatif dan juga memiliki skill yang baik. Setelah itu perlu juga untuk dihubungkan dengan konteks penelitian yang telah kita bangun. Contohnya, sampelnya kelas berapa? seperti apa karakteristik sekolah? ada berapa sampel? dan lain-lainnya. Nah, memang sudah seharusnya implikasi penelitian di lakukan secara spesifik layaknya karakteristik di atas.

Wujud Evidensi
Wujud evidensi dalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.
Kita mungkin mengartikannya sebagai "cara bagaimana kenyataan hadir" atau perwujudan dari ada bagi akal". Misal Mr.A mengatakan "Dengan pasti ada 301.614 ikan di bengawan solo", apa komentar kita ? Tentu saja kita tidak hanya mengangguk dan mengatakan "fakta yang menarik". Kita akan mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai "kepastian", Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, "Ada tiga jendela di dalam ruang ini," persetujuan atau ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.


Cara Menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1.      Observasi
2.      Kesaksian
3.      Autoritas


Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1.      Konsistensi
2.      Koherensi


Cara Menguji Autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1.      Tidak mengandung prasangka
2.      Pengalaman dan pendidikan autoritas
3.      Kemashuran dan prestise
4.      Koherensi dengan kemajuan


2..Berfikir Deduktif
Silogisme Kategorial
Kaidah Silogisme Kategorial
a.  Sebuah silogisme harus terdiri dari tiga proposisi: premis mayor, premis minor, dan konklusi. Misalnya:
           Premis Mayor: Semua petani desa itu adalah orang-orang jujur.
           Premis Minor: Halim adalah seorang petani desa it.
           Konklusi: Sebab itu, Halim adalah seorang jujur. 
           Kalau salah satu premis tidak ada, maka sulit untuk menerima konklusi
b.      Dalam ketiga proposisi itu harus ada tiga term, yaitu term mayor (term predikat dari konklusi), term minor (term subyek dari konklusi), dan term tengah (menghubungkan premis mayor dan premis minor).
c.  Setiap term yang terdapat dalam kesimpulan harus tersebar atau sudah tersebut dalam premis-premisnya.
Premis Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi
Premis Minor: Adi adalah seorang manusia
Konklusi: Sebab it, Adi adalah mahluk berakal budi.
Bila dalam kesimpulan terdapat term yang tidak pernah disebut dalam premis-premisnya, maka konklusi yang diturunkan akan tidak logis.
Premis Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi
Premis Minor: Adi adalah seorang manusia
Konklusi: Sebab it, Anita adalah mahluk berakal budi,
Sebab it, Adi adalah mahluk yang tidak berakal budi.          
d.      Bila salah satu premis bersifat universal dan yang lain bersifat partikular, maka konklusinya harus bersifat partikular.
Lihat contoh kaidah (1) dan (3).
Kalau konklusi bersifat universal, maka silogisme akan ditolak karena tidak logis. Misalnya:
Premis Mayor: Semua mahasiswa adalah orang yang rajin
Premis Minor: Tommy adalah seorang mahasiswa
Konklusi: Sebab it, semua anak bimbingan saya adalah orang yang rajin.
e.       Dari dua premis yang bersifat universal, konklusi yang diturunkan juga harus bersifat universal.
Premis Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja
Premis Minor: Semua tukang batu adalah buruh
Konklusi: Sebab itu, semua tukang batu adalah orang yang suka bekerja.
Bila konklusi bersifat partikular maka silogisme it tidak logis.
 Premis Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja
Premis Minor: Semua tukang batu adalah buruh
Konklusi: Sebab itu, Ali adalah orang yang suka bekerja.
Selain melanggar kaidah (5) silogisme di atas melanggar kaidah (3).
f.       Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis yang negatif, maka konklusinya harus negatif.
Premis mayornya negatif:
Premis Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun  tidak mengikuti perploncoan.
Premis Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun
Konklusi: Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.
Premis minornya negatif:
Premis Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di bawah 30 tahun harus mengikuti perploncoan.
Premis Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang tidak berusia di bawah 30 tahun
Konklusi: Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.
g.     Dari dua premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan. Sebab it silogisme berikut tidak sahih dan tidak logis.
Premis Mayor: Semua koruptor bukan warga negara yang baik.
Premis Minor: Ia bukan seorang warga negara yang baik.
Konklusi: Sebab itu, ia seorang koruptor.
h.       Dari dua premis yang bersifat partikular, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.
Premis Mayor: Chris John adalah seorang petinju
Premis Minor: Chris John adalah warga negara Indonesia
Konklusi: Sebab itu, petinju adalah warga negara Indonesia.

Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese.
Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotetis.
Rumus proposisi mayor dari silogisme: Jika P, maka Q
Contoh:
Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal
Premis Minor: Hujan tidak turun
Konklusi: Sebab itu panen akan gagal.
Atau
Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal
Premis Minor: Hujan turun
Konklusi: Sebab itu panen tidak gagal.
Pada contoh premis mayor mengandung dua pernyataan kategorial, yaitu hujan tidak turun dan panen akan gagal. Bagian pertama disebut antiseden, sedangkan bagian kedua disebut akibat.
Terdapat asumsi: kebenaran antiseden akan mempengaruhi kebenaran akibat.


Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif atau silogisme disjungtif: 
·  proporsi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan.
·         Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.
·         Konklusi tergantung dari premis minornya.
Contoh:
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.
Atau
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

Entimem
Enthymeme, enthymema (Yunani) berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’
      Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi.
      Contoh: Silogisme aslinya berbunyi:
Premis Mayor: Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah seorang pemain kawakan.
Premis Minor: Taufik Hidayat terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.
Konklusi: Sebab it Taufik Hidayat adalah seorang pemain (bulu tangkis kawakan).
Penulis dapat menyatakan dalam bentuk entimem:
“Taufik Hidayat adalah seorang pemain  bulu tangkis kawakan, karena terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.”

3..Berfikir Induktif
Generalisasi
1 perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dr suatu kejadian, hal, dsb; 2perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana dp yg sebenarnya (panjang lebar dsb); 3 perihal membentuk gagasan yang lebih kabur; 4 penyamarataan; -- empiris tesis, hukum, atau hipotesis berdasarkan pengamatan thd kenyataan tertentu dan spesifik; -- metodologis prinsip atau hukum yg menjelaskan suatu keahlian dan teknik untuk mempelajari dan mendekati inti suatu ilmu; --normatif generalisasi yg menyatakan penilaian; -- substantif simpulan umum dl bentuk sebab akibat yg tidak terikat oleh waktu dan tempat; -- teoretis tesis, hukum, atau hipotesis yg dicapai dng asumsi dasar bahwa variabel lainnya dianggap konstan; -- terburu-buru simpulan mutlak yg ditarik terlalu tergesa-gesa; meng·ge·ne·ra·li·sa·si v membentuk generalisasi.
Generalisasi adalah proses pendefinisian yang muncul dari pernyataan-pernyataan khusus menjadi suatu kesimpulan yang bersifat umum. Pada paragraf generalisasi, tulisan yang disampaikan didasarkan dari sekumpulan pernyataan atau peristiwa-perstiwa yang sudah ada. Pada paragraf Generalisasi, penalaran yang digunakan adalah penalaran induktif. Paragraf dengan penalaran induktif adalah paragraf yang menempatkan gagasan pokoknya pada bagian akhir paragraf.
Contoh dari paragraf generalisasi adalah sebagai berikut:
“Setiap sore sepulang sekolah Ani selalu mengasuh adik kecilnya sembari beristirahat, kemudian setelahnya di akan membantu ibunya didapur untuk menyiapkan makan malam. Selepas makan malam ani akan mengerjakan tugas sekolahnya hingga pukul 10 lalu ke esokan harinya dia akan bangun pagi agar bisa membantu ibunya sebelum berangkat ke sekolah. Begitulah kegiatan sehari-hari ani, bahkan pada saat weekend pun Ani tak akan menyia-nyiakan seluruh waktunya hanya untuk bermain. Ani memang anak yang rajin dan berbakti pada orang tua”.

“Sekarang ini banyak sekali orang yang cenderung bersifat individualis. Umumnya sifat seperti ini muncul pada mereka yang tinggal dikota-kota besar. Mereka sudah tidak mau lagi bersosialisasi dengan tetangga ataupun melakukan kerja bakti. Kebanyakan sudah terlalu sibuk dengan rutinitas mereka di kantor. Kalaupun mereka berinteraksi dengan orang lain, hal tersebut dilakukan demi bisnis atau kepentingannya sendiri. Orang baru itu berasal dari kota Jakarta, barang tentu ia akan berlaku individualis seperti orang-orang dari kota besar lainnya”.

“Burung merpati berkembang biak dengan bertelur. Begitu juga dengan burung Kakatua dan burung Beo. Hal yang sama juga terjadi pada burung elang dan burung unta. Selain burung, hewan lain yang juga bertelur adalah ayam dan bebek. Semua hewan yang masuk golongan unggas-unggasan pasti berkembang biak dengan cara bertelur”.



Hipotesis dan Teori

Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan/jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.
Hipotesis terlahir dari teori atau pengalaman empiris. Jika teori menyatakan bahwa A berpengaruh terhadap B, maka hipotesisnya adalah A berpengaruh terhadap B.
Jenis hipotesis : • Hipotesis penelitian (substantive hypothesis) • Hipotesis statistik (statistical hypothesis)
Hipotesis penelitian (Substantive hypothesis): hipotesis yang mengandung pernyataan mengenai hubungan/pengaruh antara dua variabel atau lebih, atau pernyataan mengenai perbedaan suatu objek dengan objek lainnya, sesuai dengan apa yang dikatakan teori.
Hipotesis statistik (Statistical hypothesis): hipotesis yang disajikan dengan memakai simbol-simbol matematika.
 • Hipotesis Nol (H0): menyatakan tidak adanya hubungan, atau tidak adanya pengaruh, atau tidak adanya perbedaan
 • Hipotesis Alternatif (Ha atau H1): menyatakan adanya hubungan, atau adanya pengaruh, atau adanya perbedaan. Contoh simbol matematis di dalam hipotesis statistik:
 n H0:r=0 (tidak ada hubungan)
 n Ha:r¹0 (ada hubungan) atau;
 n H0:m1=m2 (tidak ada perbedaan);
 n Ha:m1¹m2 (ada perbedaan)

Teori
Teori adalah suatu set dari hubungan antar konstruk, konsep, definisi/batasan, dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi fenomena tersebut. n Secara sederhana, teori adalah suatu pemikiran, penelaahan, bisa juga penelitian, yang telah diakui kebenarannya secara ilmiah.

Fungsi Teori
1. Menjelaskan hakikat dan makna dari sesuatu yang diteliti Misalnya: jika penelitian yang dikaji adalah motivasi, maka untuk mengetahui dan menjelaskan tentang motivasi tersebut dapat dilihat melalui teori
2. Menjelaskan hubungan sesuatu yang diteliti dengan hal lainnya. Misalnya: menjelaskan hubungan motivasi dengan prestasi kerja
3. Landasan untuk menyusun hipotesis penelitian. Misalnya: Teori menyatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap prestasi kerja. Maka hipotesisnya adalah ”ada pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja”, bunyi hipotesis ini sama seperti apa yang dinyatakan teori tersebut.
4. Dasar untuk menyusun instrumen penelitian (misalnya angket) Misalnya: Teori menyatakan bahwa seseorang memiliki motivasi kerja yang tinggi atau rendah bisa dilihat dari: semangat untuk bekerja keras, punya cita -cita, selalu ingin untuk maju, dsb. Maka ciri -ciri tersebut dapat digunakan untuk menyusun angket penelitian.
5. Acuan untuk membahas hasil penelitian Misalnya: Misalnya dari hasil penelitian yang telah dilakukan (bab IV skripsi) diperoleh hasil bahwa ada pengaruh motivasi terhadap kinerja, maka untuk membahas hasil penelitian ini, kita bisa mengkaitkannya dengan teori (bab II skripsi).

Sumber Teori
n Buku teks (text book)
n Jurnal (terbitan hasil penelitian ilmiah )
n Proseding (kumpulan makalah seminar ilmiah )
 n Dll


Analogi
1 persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan; kias: 2Ling kesepadanan antara bentuk bahasa yg menjadi dasar terjadinya bentuk lain; 3Mik sesuatu yg sama dl bentuk, susunan, atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; 4 Sas kesamaan sebagian ciri antara dua benda atau hal yg dapat dipakai untuk dasar perbandingan; meng·a·na·lo·gi·kan v membuat sesuatu yg baru berdasarkan contoh yg sudah ada; mereka-reka bentuk kata baru dng mencontoh bentuk yg telah ada.

pengertianumum, analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum. Sebagai suatu proses penalaran, analogi menurunkan suatu kesimpulan berdasarkan kesamaan aktual antara dua hal. Penarikan simpulan dengan cara analogi berasumsi bahwa jika dua hal memiliki beberapa kesamaan, aspek lain pun memiliki kesamaan. Dari pemahaman ini, analogi bertujuan untuk meramalkan kesamaan, mengungkapkan kekeliruan, dan menyusun sebuah klasifikasi.

Contoh analogi, misalnya manusia tidak suka diganggu dan diancam keselamatannya. Mengingat binatang juga mempunyai sifat yang secara relatif sama dengan manusia, setelah kita bandingkan, kita dapat menyimpulkan bahwa binatang juga tidak mau diganggu, apalagi diancam keselamatannya. Bedanya, binatang menggunakan naluri untuk mengetahui dan menghadapi bahaya yang mengancamnya, sedangkan manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.


Hubungan Kausal

Hubungan Kausal yaitu hubungan tentang sebab akibat, karena peristiwa yang satu akan menyebabkan peristiwa yang lain. Hubungan yang menunjukkan bahwa peristiwa yang satu merupakan sebab terhadap peristiwa yang lain.
Contoh dari hubungan kausal :
- Apabila panen datang, harga padi akan turun
- Gaji pegawai negeri naik, maka harga barang cenderung naik
- Pajak import dinaikan, maka harga barang impor naik
- Harga BBM dinaikan, maka ongkos angkutan juga ikut naik


Induksi dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat. Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topic dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang ekdposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langhkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Langkah menyusuk eksposisi :
a.       Menentukan topik atau tema
b.      Menetapkan tujuan
c.       Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d.      Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topic yang dipilih
e.       Mengembangkan kerangka menjadi kerangka eksposisi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar