Ana Listiya Wardani - 3EA20 – 10212721
1. Penalaran
Pengertian Penalaran
a. cara (perihal)
menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran: kepercayaan
takhayul serta ~ yg tidak logis haruslah dikikis habis;
b. hal mengembangkan
atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dng perasaan atau pengalaman;
c. proses mental dl
mengembangkan pikiran dr beberapa fakta atau prinsip;
Penalaran berasal dari kata nalar yang
mempunyai arti pertimbangan tentang baik buruk, kekuatan pikir atau aktivitas
yang memungkinkan seseorang berpikir logis. Sedangkan penalaran yaitu cara
menggunakan nalar atau proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa
fakta atau prinsip. Istilah penalaran sebagai terjemah dari bahasa Inggris
reasoning menurut kamus The Random House Dictionary berarti the act or process
of a person who reasons (kegiatan atau proses seseorang yang berpikir).
Sedangkan reason berarti the mental powers concerned with forming conclusions,
judgements or inference (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan
kesimpulan dan penilaian). Menurut Fadjar Shodiq, penalaran adalah suatu
kegiatan berpikir khusus, dimana terjadi suatu penarikan kesimpulan, dimana
pernyataan disimpulkan dari beberapa premis. Matematika dan proses penalaran
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Matematika dapat dipahami
melalui proses penalaran, dan penalaran dapat dilatih melalui belajar
matematika. Keraf berpendapat bahwa Penalaran adalah suatu proses berpikir
dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada
suatu kesimpulan. Bakry menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan
suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk
sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan
lain yang telah diketahui. Suriasumantri mengemukakan secara singkat bahwa
penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang
berupa pengetahuan. Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan
fakta-fakta atau data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa
pengetahuan. Dengan kata lain, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk
mencapai suatu kesimpulan yang logis.
Proposisi
1 rancangan usulan; 2 Ling ungkapan yg dapat dipercaya,
disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar-tidaknya;
-- eksklusif proposisi yg di dalamnya terdapat
kata-kata hanya, sendiri, tak
lain, tak satu pun, kecuali
Proposisi adalah satu tutur atau pernyataan yang melukiskan
beberapa keadaan yang belum tentu benar atau salah dalam bentuk sebuah kalimat
berita. Proposisi adalah istilah yang dipergunakan dalam analisis
logika. Keadaan dan peristiwa-peristiwa itu pada umumnya melibatkan pribadi
atau orang yang dirujuk oleh ujaran dalam kalimat. Kebenaran sebuah proposisi
berkorespondensi dengan fakta. Sebuah proposisi yang salah tidak berkorespondensi
dengan fakta.
Proposisi terdiri atas empat unsur, dua di antaranya
merupakan materi pokok proposisi, sedangkan dua yang lain sebagai hal yang
menyertainya. Empat unsur yang dimaksudkan adalah term sebagai subjek, term
sebagai predikat, kopula, dan kuantor.
Bentuk umum dan proposisi adalah sebagai
berikut:
Kuantor + Subjek + Kopula + Predikat
Jenis-jenis
proposisi secara
sederhana dapat dibedakan atas empat macam, yaitu sebagai berikut:
- Proposisi Universal Afirmatif: Proposisi
universal afirmatif adalah pernyataan bersifat umum yang membenarkan
adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan “semua S adalah P”.
- Proposisi Universal Negatif: Proposisi
universal negatif adalah pernyataan yang bersifat umum yang mengingkari
adanya hubungan subjek dengan predikat. Dirumuskan “semua S bukan P”
- Proposisi Partikular Afirmatif: Proposisi
partikular afirmatif adalah pernyataan bersifat khusus yang membenarkan
adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan “sebagian S adalah P”
- Proposisi Partikular Negatif: Proposisi
partikular negatif adalah pernyataan bersifat khusus yang mengingkari
adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan “sebagian S bukan P”
Inferensi dan Implikasi
Inferensi
inferensi /in·fe·ren·si/ /inférénsi/ n simpulan; yg disimpulkan.
Inferensi
merupakan intisari informasi baru yang bersifat implisit dan eksplisit dari
informasi yang diberikan (Cummings, 1999). Proses inferensi terjadi ketika
dalam proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh
implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri
konteks pada dasarnya merupakan proses inferensi. Konteks implikatur diperoleh
bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori
relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwaa konteks yang benar untuk
menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar
memilih konteks dengan sendirinya.Inferensi terdiri dari tiga hal, yaitu
inferensi deduktif, inferensi elaboratif, dan inferensi percakapan (Cummings,
1999). Lebih detail dijelaskan bahwa inferensi deduktif memiliki tiga tipe
silogisme, yaitu ‘all’ dan ‘some’ baik afirmatif, maupun negatif. Inferensi
deduktif memiliki kaitan dengan makna semantik. Implikatur percakapan,
pra-anggapan, dan sejumlah konsep lain memuat kegiatan inferensi. inferensi
dapat diperoleh dari kaidah deduktif logika dan dari makna semantik item
leksikal. Inferensi menggunakan penalaran deduksi dalam kegiatan penalaran dan
interpretasi ujaran. Inferensi elaboratif sangat terkait dengan pengetahuan
ekstralinguistik penutur bahasa. Inferensi ini menemukan adanya pengaruh
pengetahuan dan informasi kognisi. Pada tahun 1991, pakar inteligensi
artifisial Johnson-Laird dan Byrne (dalam Cummings, 1999) merumuskan
tahap deduksi dalam teori model-model mental adalah (a) premis dan pengetahuan
umum, (b) pemahaman, (c) model, (d) deskripsi, (e) simpulan terduga,
(f)validasi, dan (g) simpulan valid.
Inferensi
elaboratif memiliki peran dalam interpretasi ujaran. Cummings (1999)
menggambarkan adanya integrasi interpretasi ujaran dari tiga subkomponen yang
berpa abstrak (pengetahuan dunia), abstrak (pengetahuan komunikatif), dan
fungsional (interferensi elaboratif). Namun oleh ahli pragmatik, kajian
terhadap kelompok-kelompok inferensi ini bisa saja diabaikan karena para pakar
inferensi elaboratif sebagian besar dari kalangan psikologi. Pakar pragmatik
mengabaikan inferensi elaboratif tersebut dengan alasan disiplin ilmu.
ika
ditinjau kembali cakupan bahasan pragmatik dari beberapa ahli, akan diperoleh
gambaran yang lebih dalam lagi.. Hal ini penting untuk memperdalam wawasan
untuk menanggapi polemik disipliner inferensi dalam kajian interpretasi
pragmatik atau inferensi elaboratif antarpakar psikologi dan pragmatik.
Akhirnya muncul perlawanan inferensial elaboratif dengan interpretasi
pragmatik.
Implikasi
implikasi /im·pli·ka·si/ n 1 keterlibatan atau
keadaan terlibat: -- manusia sbg
objek percobaan atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentingannya; 2 yg termasuk atau
tersimpul; yg disugestikan, tetapi tidak dinyatakan: apakah ada -- dl pertanyaan itu?;
berimplikasi /ber·im·pli·ka·si/ v mempunyai implikasi; mempunyai hu-bungan keterlibatan: kepentingan umum ~ pd kepentingan pribadi sbg anggota masyarakat;
mengimplikasikan /meng·im·pli·ka·si·kan/ v melibatkan;
terimplikasi /ter·im·pli·ka·si/ v termasuk atau tersimpul; terlibat
Pada dasarnya implikasi bisa kita definisikan
sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian.
Akan tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di
dalamnya. Di dalam konteks penelitian sendiri, implikasi bisa di lihat. Apabila
dalam sebuah penelitian kita mempunyai kesimpulan misalnya "A",
"Manusia itu bernafas". Maka "Manusia itu bernafas" yang
kita sebut dengan implikasi penelitian. Untuk contohnya, dalam hasil penelitian
kita menemukan bahwa siswa yang di ajar dengan metode "A" lebih
kreatif serta memiliki skill yang lebih baik.
Dengan demikian dengan menggunakan metode
belajar "A" kita bisa mengharapkan siswa menjadi lebih kreatif dan
juga memiliki skill yang baik. Setelah itu perlu juga untuk dihubungkan dengan
konteks penelitian yang telah kita bangun. Contohnya, sampelnya kelas berapa?
seperti apa karakteristik sekolah? ada berapa sampel? dan lain-lainnya. Nah,
memang sudah seharusnya implikasi penelitian di lakukan secara spesifik
layaknya karakteristik di atas.
Wujud Evidensi
Wujud evidensi dalah semua fakta yang ada, yang
dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil
pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena.
Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini
sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat
dihindarkan.
Kita
mungkin mengartikannya sebagai "cara bagaimana kenyataan hadir" atau
perwujudan dari ada bagi akal". Misal Mr.A mengatakan "Dengan pasti
ada 301.614 ikan di bengawan solo", apa komentar kita ? Tentu saja kita
tidak hanya mengangguk dan mengatakan "fakta yang menarik". Kita akan
mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu
saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai "kepastian", Tentu
saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur
atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit
bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai
untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam
persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya,
kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, "Ada tiga
jendela di dalam ruang ini," persetujuan atau ketidak setujuan saya segera
jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah
didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu
berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah
bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
Cara Menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus
merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara
tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai
evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian
tersebut.
1.
Observasi
2.
Kesaksian
3.
Autoritas
Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh
itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru
merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua
bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian
tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga
benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1.
Konsistensi
2.
Koherensi
Cara Menguji Autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua
desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan
pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh
didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1.
Tidak mengandung
prasangka
2.
Pengalaman dan
pendidikan autoritas
3.
Kemashuran dan
prestise
4.
Koherensi dengan
kemajuan
2..Berfikir Deduktif
Silogisme Kategorial
Kaidah Silogisme Kategorial
a. Sebuah
silogisme harus terdiri dari tiga proposisi: premis mayor, premis minor, dan konklusi.
Misalnya:
Premis Mayor: Semua petani desa itu
adalah orang-orang jujur.
Premis Minor: Halim adalah seorang
petani desa it.
Konklusi: Sebab itu, Halim adalah
seorang jujur.
Kalau salah satu premis tidak ada,
maka sulit untuk menerima konklusi
b.
Dalam
ketiga proposisi itu harus ada tiga term, yaitu term mayor (term predikat dari
konklusi), term minor (term subyek dari konklusi), dan term tengah
(menghubungkan premis mayor dan premis minor).
c. Setiap
term yang terdapat dalam kesimpulan harus tersebar atau sudah tersebut dalam
premis-premisnya.
Premis
Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi
Premis
Minor: Adi adalah seorang manusia
Konklusi:
Sebab it, Adi adalah mahluk berakal budi.
Bila
dalam kesimpulan terdapat term yang tidak pernah disebut dalam
premis-premisnya, maka konklusi yang diturunkan akan tidak logis.
Premis
Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi
Premis
Minor: Adi adalah seorang manusia
Konklusi:
Sebab it, Anita adalah mahluk berakal budi,
Sebab
it, Adi adalah mahluk yang tidak berakal budi.
d.
Bila
salah satu premis bersifat universal dan yang lain bersifat partikular, maka
konklusinya harus bersifat partikular.
Lihat
contoh kaidah (1) dan (3).
Kalau
konklusi bersifat universal, maka silogisme akan ditolak karena tidak logis.
Misalnya:
Premis
Mayor: Semua mahasiswa adalah orang yang rajin
Premis
Minor: Tommy adalah seorang mahasiswa
Konklusi:
Sebab it, semua anak bimbingan saya adalah orang yang rajin.
e.
Dari
dua premis yang bersifat universal, konklusi yang diturunkan juga harus
bersifat universal.
Premis
Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja
Premis
Minor: Semua tukang batu adalah buruh
Konklusi:
Sebab itu, semua tukang batu adalah orang yang suka bekerja.
Bila konklusi bersifat partikular
maka silogisme it tidak logis.
Premis Mayor: Semua buruh adalah
orang yang suka bekerja
Premis
Minor: Semua tukang batu adalah buruh
Konklusi:
Sebab itu, Ali adalah orang yang suka bekerja.
Selain
melanggar kaidah (5) silogisme di atas melanggar kaidah (3).
f.
Jika
sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis yang
negatif, maka konklusinya harus negatif.
Premis
mayornya negatif:
Premis
Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun tidak mengikuti perploncoan.
Premis
Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun
Konklusi:
Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.
Premis
minornya negatif:
Premis
Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di bawah 30 tahun harus mengikuti perploncoan.
Premis
Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang tidak berusia di bawah 30 tahun
Konklusi:
Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.
g. Dari
dua premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan. Sebab it silogisme
berikut tidak sahih dan tidak logis.
Premis
Mayor: Semua koruptor bukan warga negara yang baik.
Premis
Minor: Ia bukan seorang warga negara yang baik.
Konklusi:
Sebab itu, ia seorang koruptor.
h.
Dari dua premis yang bersifat partikular,
tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.
Premis
Mayor: Chris John adalah seorang petinju
Premis
Minor: Chris John adalah warga negara Indonesia
Konklusi:
Sebab itu, petinju adalah warga negara Indonesia.
Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetis
atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang
mengandung hipotese.
Premis mayornya
mengandung pernyataan yang bersifat hipotetis.
Rumus proposisi
mayor dari silogisme: Jika P, maka Q
Contoh:
Premis Mayor: Jika
tidak turun hujan, maka panen akan gagal
Premis Minor: Hujan
tidak turun
Konklusi: Sebab itu
panen akan gagal.
Atau
Premis Mayor: Jika
tidak turun hujan, maka panen akan gagal
Premis Minor: Hujan
turun
Konklusi: Sebab itu
panen tidak gagal.
Pada contoh premis
mayor mengandung dua pernyataan kategorial, yaitu hujan tidak turun dan panen
akan gagal. Bagian pertama disebut antiseden, sedangkan bagian kedua
disebut akibat.
Terdapat asumsi:
kebenaran antiseden akan mempengaruhi kebenaran akibat.
Silogisme Alternatif
Silogisme
alternatif atau silogisme disjungtif:
· proporsi
mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung
kemungkinan atau pilihan.
·
Proposisi
minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu
alternatifnya.
·
Konklusi
tergantung dari premis minornya.
Contoh:
Premis Mayor: Ayah
ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah
ada di kantor
Konklusi: Sebab it,
ayah tidak ada di rumah.
Atau
Premis Mayor: Ayah
ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah
ada di kantor
Konklusi: Sebab it,
ayah tidak ada di rumah.
Entimem
Enthymeme,
enthymema (Yunani) berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan
dalam ingatan’
• Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi.
• Contoh: Silogisme aslinya berbunyi:
Premis Mayor: Siapa
saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah seorang pemain
kawakan.
Premis Minor:
Taufik Hidayat terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.
Konklusi: Sebab it
Taufik Hidayat adalah seorang pemain (bulu tangkis kawakan).
Penulis dapat
menyatakan dalam bentuk entimem:
“Taufik Hidayat
adalah seorang pemain bulu tangkis
kawakan, karena terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.”
3..Berfikir Induktif
Generalisasi
1 perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dr suatu kejadian,
hal, dsb; 2perihal membuat
suatu gagasan lebih sederhana dp yg sebenarnya (panjang lebar dsb); 3 perihal membentuk gagasan yang lebih
kabur; 4 penyamarataan; -- empiris tesis, hukum, atau hipotesis
berdasarkan pengamatan thd kenyataan tertentu dan spesifik; -- metodologis prinsip atau hukum yg menjelaskan
suatu keahlian dan teknik untuk mempelajari dan mendekati inti suatu ilmu; --normatif generalisasi yg menyatakan penilaian;
-- substantif simpulan umum dl bentuk sebab akibat
yg tidak terikat oleh waktu dan tempat; -- teoretis tesis, hukum, atau hipotesis yg
dicapai dng asumsi dasar bahwa variabel lainnya dianggap konstan; -- terburu-buru simpulan mutlak yg ditarik terlalu
tergesa-gesa; meng·ge·ne·ra·li·sa·si v membentuk generalisasi.
Generalisasi adalah proses pendefinisian yang muncul dari
pernyataan-pernyataan khusus menjadi suatu kesimpulan yang bersifat umum. Pada
paragraf generalisasi, tulisan yang disampaikan didasarkan dari sekumpulan
pernyataan atau peristiwa-perstiwa yang sudah ada. Pada paragraf Generalisasi,
penalaran yang digunakan adalah penalaran induktif. Paragraf dengan penalaran
induktif adalah paragraf yang menempatkan
gagasan pokoknya pada bagian akhir paragraf.
Contoh dari paragraf generalisasi
adalah sebagai berikut:
“Setiap sore sepulang sekolah Ani
selalu mengasuh adik kecilnya sembari beristirahat, kemudian setelahnya di akan
membantu ibunya didapur untuk menyiapkan makan malam. Selepas makan malam ani
akan mengerjakan tugas sekolahnya hingga pukul 10 lalu ke esokan harinya dia
akan bangun pagi agar bisa membantu ibunya sebelum berangkat ke sekolah.
Begitulah kegiatan sehari-hari ani, bahkan pada saat weekend pun Ani tak akan
menyia-nyiakan seluruh waktunya hanya untuk bermain. Ani memang anak yang rajin
dan berbakti pada orang tua”.
“Sekarang ini banyak sekali orang
yang cenderung bersifat individualis.
Umumnya sifat seperti ini muncul pada mereka yang tinggal dikota-kota besar.
Mereka sudah tidak mau lagi bersosialisasi dengan tetangga ataupun melakukan
kerja bakti. Kebanyakan sudah terlalu sibuk dengan rutinitas mereka di kantor.
Kalaupun mereka berinteraksi dengan orang lain, hal tersebut dilakukan demi
bisnis atau kepentingannya sendiri. Orang baru itu berasal dari kota Jakarta,
barang tentu ia akan berlaku individualis seperti orang-orang dari kota besar
lainnya”.
“Burung merpati berkembang biak
dengan bertelur. Begitu juga dengan burung Kakatua dan burung Beo. Hal yang
sama juga terjadi pada burung elang dan burung unta. Selain burung, hewan lain
yang juga bertelur adalah ayam dan bebek. Semua hewan yang masuk golongan unggas-unggasan
pasti berkembang biak dengan cara bertelur”.
Hipotesis
dan Teori
Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan/jawaban sementara terhadap
permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.
Hipotesis terlahir dari teori atau pengalaman empiris. Jika
teori menyatakan bahwa A berpengaruh terhadap B, maka hipotesisnya adalah A
berpengaruh terhadap B.
Jenis hipotesis : • Hipotesis penelitian (substantive
hypothesis) • Hipotesis statistik (statistical hypothesis)
Hipotesis penelitian (Substantive hypothesis): hipotesis yang
mengandung pernyataan mengenai hubungan/pengaruh antara dua variabel atau
lebih, atau pernyataan mengenai perbedaan suatu objek dengan objek lainnya,
sesuai dengan apa yang dikatakan teori.
Hipotesis statistik (Statistical hypothesis): hipotesis yang
disajikan dengan memakai simbol-simbol matematika.
• Hipotesis Nol (H0):
menyatakan tidak adanya hubungan, atau tidak adanya pengaruh, atau tidak adanya
perbedaan
• Hipotesis Alternatif
(Ha atau H1): menyatakan adanya hubungan, atau adanya pengaruh, atau adanya
perbedaan. Contoh simbol matematis di dalam hipotesis statistik:
n H0:r=0
(tidak ada hubungan)
n Ha:r¹0
(ada hubungan) atau;
n H0:m1=m2
(tidak ada perbedaan);
n Ha:m1¹m2
(ada perbedaan)
Teori
Teori adalah suatu set dari hubungan antar konstruk, konsep,
definisi/batasan, dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis
tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan
menjelaskan dan memprediksi fenomena tersebut. n Secara sederhana, teori
adalah suatu pemikiran, penelaahan, bisa juga penelitian, yang telah diakui
kebenarannya secara ilmiah.
Fungsi Teori
1. Menjelaskan hakikat dan makna dari sesuatu yang diteliti
Misalnya: jika penelitian yang dikaji adalah motivasi, maka untuk mengetahui
dan menjelaskan tentang motivasi tersebut dapat dilihat melalui teori
2. Menjelaskan hubungan sesuatu yang diteliti dengan hal
lainnya. Misalnya: menjelaskan hubungan motivasi dengan prestasi kerja
3. Landasan untuk menyusun hipotesis penelitian. Misalnya:
Teori menyatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap prestasi kerja. Maka
hipotesisnya adalah ”ada pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja”, bunyi
hipotesis ini sama seperti apa yang dinyatakan teori tersebut.
4. Dasar untuk menyusun instrumen penelitian (misalnya
angket) Misalnya: Teori menyatakan bahwa seseorang memiliki motivasi kerja yang
tinggi atau rendah bisa dilihat dari: semangat untuk bekerja keras, punya cita
-cita, selalu ingin untuk maju, dsb. Maka ciri -ciri tersebut dapat digunakan
untuk menyusun angket penelitian.
5. Acuan untuk membahas hasil penelitian Misalnya: Misalnya
dari hasil penelitian yang telah dilakukan (bab IV skripsi) diperoleh hasil
bahwa ada pengaruh motivasi terhadap kinerja, maka untuk membahas hasil
penelitian ini, kita bisa mengkaitkannya dengan teori (bab II skripsi).
Sumber Teori
n
Buku teks (text book)
n
Jurnal (terbitan hasil penelitian ilmiah )
n
Proseding (kumpulan makalah seminar ilmiah )
n Dll
Analogi
1 persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg
berlainan; kias: 2Ling kesepadanan antara bentuk bahasa yg
menjadi dasar terjadinya bentuk lain; 3Mik sesuatu yg sama dl bentuk, susunan,
atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; 4 Sas kesamaan sebagian ciri antara dua
benda atau hal yg dapat dipakai untuk dasar perbandingan; meng·a·na·lo·gi·kan v membuat sesuatu yg baru berdasarkan
contoh yg sudah ada; mereka-reka bentuk kata baru dng mencontoh bentuk yg telah
ada.
pengertianumum, analogi adalah proses penalaran berdasarkan
pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpakan suatu
objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan
sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum. Sebagai suatu proses penalaran,
analogi menurunkan suatu kesimpulan berdasarkan kesamaan aktual antara dua hal.
Penarikan simpulan dengan cara analogi berasumsi bahwa jika dua hal memiliki
beberapa kesamaan, aspek lain pun memiliki kesamaan. Dari pemahaman ini,
analogi bertujuan untuk meramalkan kesamaan, mengungkapkan kekeliruan, dan
menyusun sebuah klasifikasi.
Contoh
analogi, misalnya manusia tidak suka diganggu dan diancam keselamatannya.
Mengingat binatang juga mempunyai sifat yang secara relatif sama dengan
manusia, setelah kita bandingkan, kita dapat menyimpulkan bahwa binatang juga
tidak mau diganggu, apalagi diancam keselamatannya. Bedanya, binatang
menggunakan naluri untuk mengetahui dan menghadapi bahaya yang mengancamnya,
sedangkan manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
Hubungan
Kausal
Hubungan Kausal yaitu hubungan tentang sebab
akibat, karena peristiwa yang satu akan menyebabkan peristiwa yang lain.
Hubungan yang menunjukkan bahwa peristiwa yang satu merupakan sebab terhadap
peristiwa yang lain.
Contoh dari hubungan
kausal :
- Apabila panen datang, harga padi akan turun
- Gaji pegawai negeri naik, maka harga barang
cenderung naik
- Pajak import dinaikan, maka harga barang
impor naik
- Harga BBM dinaikan, maka ongkos angkutan
juga ikut naik
Induksi
dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah satu jenis pengembangan paragraf dalam
penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau
memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topic dengan tujuan
memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas
uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik. Sebagai
catatan, tidak jarang ekdposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang
langhkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusuk eksposisi :
a.
Menentukan topik atau tema
b.
Menetapkan tujuan
c.
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d.
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topic yang
dipilih
e.
Mengembangkan kerangka menjadi kerangka eksposisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar