Jumat, 06 Juni 2014

cara merawat anggrek

Tata cara perawatan anggrek bulan / phalaenopsis yang menurut kebanyakan orang lebih sulit, bila dibandingkan dengan anggrek dendrobium yang lebih mudah tumbuh di daerah tropis/Indonesia. Walau demikian anggrek bulan, yaitu Phalaenopsis amabilis adalah salah satu bunga nasional Indonesia yang disebut juga PUSPA PESONA karena sejak dulu sudah banyak digemari oleh para kerabat kerajaan dan bukti-bukti itu terdapat pada beberapa ornamen / hiasan keris langka. Anggrek bulan/phalaenopsis saat ini adalah primadona atau komoditas utama dari produksi dan penjualan anggrek diseluruh dunia. Untuk itu kami mencoba membantu anda dengan menyediakan Tata Cara Perawatan anggrek bulan/phalaenopsis untuk Indonesia agar dapat menjadi panduan atau membantu pemeliharaan bagi semua orang yang menggemarinya.
Adapun cara-caranya adalah sebagai berikut :
1.      Memilih bibit Anggrek yang sehat : Jika anda mambeli bibit anggrek bulan, pilihlah tanaman yang kondisinya baik dan sehat. Hal itu bisa dilihat dari daun dan akarnya yang sehat. Daun yang banyak adalah cermin dari akar yang masih berfungsi dengan baik. Sebaliknya jika daun kurang baik pasti akarnya juga tidak tumbuh dengan baik. Jika anda membeli anggrek bulan yang sudah berbunga, lihat ujung tangkai bunga , kalau masih ada kuncupnya yang hijau/segar biasanya akan terus berbunga walau bunganya sudah layu. Disinilah keunikan dan keunggulan anggrek bulan, yaitu bisa terus mekar hingga tangkainya panjang. Pada umumnya anggrek bulan memiliki daya tahan untuk mekar dari 1 hingga 3 bulan dan bisa berbunga lagi.
a.       Bibit botolan Jika membeli bibit botolan, jangan hanya dilihat jumlah isinya saja. Isi yang banyak memberi kecenderungan bibit ukuran kecil-kecil. Bibit yang terlalu kecil ini selain rentan juga lambat dalam pertumbuhannya jika ditanam. Saran kami, pilih bibit dalam bobot yang botolnya besar (jangan botol tomat) dan bibit dalam botol yang lebih besar atau botol selai, seperti bibit import dari Taiwan.
b.      Bibit seedling atau dewasa Seedling biasanya dijual, setelah bibit botolan ditanam beberapa bulan oleh petani. Tanaman dewasa telah ditanam lebih dari satu tahun oleh petani. Untuk itu jangan lupa memperhatikan sarat-sarat yang telah di sebut diatas.
2.      Menanam dan Mere-potting : Cara penanaman bibit anggrek bulan dari botol
 .                    Disarankan dengan pot plastik putih ukuran 1,5 inch atau trey putih atau gelas aqua bekas yang tembuh cahaya dan media sphagnum moss atau mos putih. Cara lain yang biasanya dilakukan yaitu dengan pot tanah liat berisi media cacahan pakis, arang kayu, atau mos coklat adalah cara lama dan ini ternyata pertumbuhannya lebih lambat dari cara pertama. Hal ini telah kami teliti bersama beberapa pelajar pertanian yang magang di kebun kami selama 2×4 bulan di tahun 2005 dan 2006. Cara menanam yang pertama mengurangi frekuensi penyiraman menjadi rata-rata seminggu 2 kali saja, sehingga dapat juga mengurangi kemungkinan penyakit busuk daun yang mudah menyerang anggrek phalaenopsis.
a.                   Repotting Perlu dilakukan setelah ditanam seperti no. 2a. setelah 5-8 bulan maka pot diganti ke pot ukuran 2,5 inch dengan ditambah sphagnum moss di kelilingnya. Hal ini dilakukan lagi setelah tanaman berusia 12- 14 bulan dengan pot 3,5 inch. Repoting juga bisa dilakukan kembali oleh Media spagnum moss seperti yang kami gunakan. Pot yang dipakai lebih baik pot plastik karena lebih mudah untuk repotting di kemudian hari. Pot yang dipakai jangan terlalu besar dan dalam, moss kemudian dipadatkan dan ditekan agar rapat dengan potnya. Sebelum dipakai moss harus direndam dulu selama 2-3 jam kemudian diperas agar tidak terlalu basah dan siap digunakan.
3.      Penyiraman dan Pemupukan : Penyiraman dilakukan apabila media tanamnya sudah benar-benar kering, janganlah melakukan penyiraman apabila medianya masih basah. Anggrek bulan tidak suka kondisi terlalu basah tetapi butuh kelembaban yang cukup. Siramlah medianya sampai benar-benar basah dan hindari membasahi daun karena dapat menyebabkan busuk daun.
Disini Simanis Orchids telah melakukan percobaan dan penelitian untuk membantu anda melakukan penyiraman dengan cara mudah yaitu dengan menggunakan talang sebagai wadah untuk merendam pot tanaman anda sampai sebatas pangkal daun, rendam sampai medianya basah tergantung banyak dan besar kecilnya pot anda, setelah itu buang air kelebihannya. Cara ini tidak perlu anda lakukan tiap hari, cukup 3 atau 4 hari sekali tergantung kondisi tanaman, juga dapat sekaligus mencampur air rendaman dengan pupuk dengan takaran setengah dari dosis normalnya. Untuk 1 minggu sekali siram daun untuk membersihkan permukaan daun dari debu dan kotoran yang menempel pada daun (membilas). Selang beberapa jam jika masih ada sisa tetesan air dipermukaan daun harus diseka dengan tissu agar tidak terjadi busuk daun. Keuntungan merendam di dalam talang adalah media akan basah secara rata dari bawah sampai atas. Media mos putih akan lebih awet dan akan akan lebih banyak menyerap makanan dalam kelebaban yang merata tersebut.
4.      Pencegahan Hama dan Penyakit : Jika lingkungan tempat anda memelihara anggrek kurang bersih, kotor dan bercampur dengan tanaman lainnya, maka kemungkinan anggrek anda akan mudah terserang hama dan penyakit. Antara lain serangga pengganggu, hewan, bakteri dan juga jamur. Dalam hal ini perlu diperhatikan juga musim (hujan/panas) lembab atau kering. Umumnya pada saat musim kemarau lebih sering diberikan insectisida dan pada musim hujan fungisidanya yang lebih sering. Pemberian insectisida dan fungisida yang dilakukan secara bersamaan dengan pemupukan dan membantu mengurangi atau meniadakan gangguan tersebut. Dalam hal ini perhatikan dosis yang sudah ditentukan, jangan sampai berlebihan karena dapat merusak anggrek itu sendiri. Beberapa jenis hewan pengganggu seperti siput dapat dengan diambil dan dimatikan. Akan tetapi apabila anggrek bulan anda terserang bakteri , maka anggrek bulan yang sakit harus dipisahkan agar tidak menular, apabila perlu dimusnahkan dengan cara dibakar supaya bakteri tersebut ikut musnah dan tidak menular pada anggrek anda yang lainnya.
Hari
Pupuk/pestisida
Dosis
Rabu
N.P.K 1 : 1 : 1
½ sendok teh per-liter
Sabtu/Minggu
Air +
insectisida/fungisida kalau perlu
Sesuai dosis pada kemasan
2 x seminggu
Insectisida, Fungisida
Sesuai dosis pada kemasan
5.      Sirkulasi Udara dan Pencahayaan : Sirkulasi udara sangatlah penting bagi pertumbuhan anggrek. Karena apabila tempatnya sempit dan pengap maka anggrek tersebut akan mudah terserang penyakit, baik jamur maupun penyakit. Untuk itu perhatikan betul sirkulasi udaranya. Jika lingkungan anda mempunyai kelembaban tinggi dan udara tidak mengalir lancar, maka keadaan lingkungan yang panas tersebut dapat menyebabkan tumbuhnya jamur / cendawan yang dapat merusak daun anggrek bulan pada awalnya dan dapat menular keseluruh tanaman. Pencahayaan juga memegang peranan yang penting karena berguna untuk proses fotosintesa tanaman. Jangan menempatkan anggrek bulan anda di tempat yang terkena sinar langsung dalam jangka waktu yang lama. Karena kalau anggrek anda terkena sinar matahari yang berlebihan dan langsung dalam waktu yang lama, akan dapat membuat daunnya terbakar dan rusak.
6.      Penutup : Demikian tips perawatan dari kami, semoga dapat berguna untuk anda semua. Merawat tanaman anggrek itu sebenarnya tidaklah sulit tapi perlu ketekunan serta ketelatenan sehingga dapat tumbuh dengan subur dan sehat. 

http://javaorchids.wordpress.com/tips-tips-merawat-anggrek/

cara merawat kelinci

Kelinci yang menggemaskan ini, bisa jadi hewan yang penurut. Jika ia dipelihara dengan baik, kelinci akan menjadi jinak, lembut, dan bisa turuti perintah sang pemeliharanya. Apa saja kebutuhan untuk memelihara kelinci? Simak beberapa paparan berikut.
Oryctolagus cuniculus Tasmania 2b.jpg
Hal pertama yang dibutuhkan adalah kandang. Ada beberapa syarat untuk kandang yang nyaman dan baik untuk kelinci kesayangan Anda. Dekat dengan sumber air, berada di lokasi yang sejuk (bertemperatur 15 s/d 20 derajat Celcius), dengan angka kelembapan 60% s/d 90%, serta jauh dari berbagai gangguan dan predator (ular, anjing atau kucing).
Kadang mendapatkan cukup sinar matahari pagi. Sebaiknya kandang menghadap ke timur, agar matahari pagi bisa dinikmati kelinci Anda. Karena panasnya sinar matahari punya fungsi untuk membuat kandang tetap kering dan bisa membunuh kuman penyakit yang mungkin ada di sana. Kandang harus punya ventilasi udara yang cukup untuk sirkulasi udara dari luar dan dalam kandang.
Posisi kandang harus lebih tinggi daipada daerah sekitarnya agar tidak tergenang air. Lantai yang tergenang air dan becek, bisa jadi sarang parasit.
Jarak kandang dengan rumah Anda, minimal sejauh 10 meter, agar bau dari kotoran dan urine nya tidak menganggu. Jika dipelihara karena hoby (bukan peternakan), maka kandang bisa ditempatkan di lahan kosong yang ada di sekitar rumah dengan syarat, sanitasinya juga terjaga bersih. Lokasi kandang aman, tidak bersuara gaduh, tenang, dan nyaman.
Anda pasti kerap memeluknya dan menggendongnya kapanpun Anda inginkan. Kelinci juga akan merasa senang dan nyaman jika Anda paham bagaimana cara menggendong mereka.
Untuk mengangkat kelinci yang besar dari dalam kandangnya, peganglah kulit tengkuk atau punggungnya dengan salah satu tangan Anda. Satu tangan yang lain, mengangkat pinggulnya. Jika kelinci masih kecil, peganglah bagian kulit bahunya dengan lembut. Jika kelinci meronta, hati-hatilah. Jauhi tubuh Anda dari cakaran kaki belakangnya. Jangan mengangkat mereka dengan menggenggam dua telinganya. Telinga mereka akan sakit, bahkan kelinci akan jadi cacat.
Supaya penampilannya jadi cantik dan bersih, mandikanlah kelinci Anda. Kelinci sebenarnya tidak tahan air. Disarankan, mandikan mereka dengan air hangat sebulan dua kali. Siramkanlah perlahan menggunakan selang atau gayung. Sambil disiram, usapkan lembut badan kelinci, agar air meresap hingga kulit badannya.
Gunakan sampho bayi unutk menyabuninya. Pijat perlahan tubuhnya, lalu bilas hingga bersih. Keringkan tubuh kelinci dengan handuk yang lembut, lalu keringkan bulu dan tubuhnya yang basah itu dengan hair dryer. Jika kita tidak bisa memandikannya, bawalah kelinci ke pet shop yang melayani pemandian kelinci.
Bulu kelinci yang lembut dan bersih, akan mempercantik penampilannya. Menyisir bulu, merupakan hal yang paling mudah. Lakukanlah sebanyak 2 s/d 3 kali seminggu agar bulunya tidak kumal dan lengket. Gunakan sisir khusus untuk bulu kelinci yang bisa dibeli di pet shop terdekat.
Kelinci termasuk binatang malam. Lebih aktif makan di malam hari, daripada siang hari. Jadi, berikanlah porsi pakan yang lebih banyak ketika malam hari. Pagi dan siang sebaiknya kelinci diberikan konsentrat, biji-bijian (padi, jagung, gandum, kedelai, kacang tanah, kacang hijau), dan umbi-umbian yang dilembutkan. Untuk sore dan malam hari, berikan pakan dari jerami dan daun-daun hijau yang segar. Jadwal pemberian pakan yang teratur setiap hari, akan menjamin kesehatan kelinci Anda.
Perhatikanlah perkembangan kelinci Anda setiap hari. Jika kelinci terserang sakit, segeralah bawa ke dokter hewan. Sesungguhnya pencegahan penyakit akan lebih baik, daripada mengobati. Agar kelinci bertubuh sehat, tambahkanlah suplemen vitamin dalam makanannya.

Bahaya di luar dan di dalam rumah bagi Kelinci

Kelinci rumahan yang bebas berkeliaran di rumah dan taman, menikmati gaya hidup yang social, stimulasi dan nyaman. Tetapi keamanan gaya hidup tergantung pada pengontrolan lingkungan kelinci. Menghilangkan atau mengurangi resiko /bahaya bagi kelinci.

Jenis bahaya apa yang anda perlu perhatikan?
Bahaya langsung untuk kelinci di luar rumah adalah serangan oleh pemangsa atau predator. Meskipun House Rabbit Society tidak mengumpulkan data statistik tentang serangan pemangsa, kami memberi peringatan berdasarkan cerita yang diberitakan pada kami dari pemelihara kelinci di kota dan daerah. Kandang di taman tidak melindungi kelinci dari pemangsa. Beberapa peristiwa termasuk serangan dari anjing, kucing liar, rakun, dan coyote; dan terkadang burung hantu, elang, possum, dan weasel (sejenis musang). Pemangsa yang kukuh dapat membengkokkan atau merusak kawat; yang gesit dapat membukan pintu kandang. Hanya keberadaan pemangsa saja dapat menyebabkan reaksi yang parah pada kelinci. Panik dimana kelinci lari ketakutan ke sana ke mari, berputar-putar dan menggelepar. Kelinci pada keadaan seperti ini dapat mematah tulang belakang mereka atau mati karena serangan jantung. Kelinci yang selamat mungkin akan cacat, atau terkena infeksi dari gigitan atau luka cakaran.
Karena banyak pemangsa yang berburu pada malam hari, House Rabbit Society menganjurkan kelinci dibawa masuk ke dalam rumah setiap sore. Kandang yang kuat dan penutup dalam taman biasanya cukup menghindari serangan siang hari khususnya jika ada orang di sekitarnya.
Kelinci meskipun disterilkan (spay/neuture) jika berkeliaran di taman, dia akan memperlihatkan naluri kelinci liarnya, dia akan menggali lubang. Jika dibiarkan lama kelamaan lubang ini menjadi cukup rumit untuk pemelihara menangkapnya. Ini akan menjadi masalah jika kelinci anda ketakutan, luka, sakit, hamil atau apapun yang memerlukan pertolongan anda. Dan lagi pula tanah juga dapat mengandung bakteri yang berbahaya.
Maka dari itu, kami menganjurkan kelinci memuaskan hasrat menggalinya di dalam kandang atau kotak yang berisi jerami yang bersih. Menggali lubang di tanah dapat dikurangi dengan menambah kawat di bawah kandang atau dengan menutup lubang saat dia memulainya.
Setelah menghilangkan lubang alami kelinci, perlindungan harus diberikan pada waktu cuaca yang ekstrim (panas atau dingin sekali). Kelinci yang memiliki gaya hidup yang flexibel dapat bergabung dengan keluarga manusianya dalam rumah dapat bersama hidup di lingkungan yang nyaman. Kelinci yang sementara menahan panas dapat disejukan dengan menggantung handuk basah di dekat nya atau dengan menaruh es didalam kotak bekas susu atau kantong plastik.
Banyak orang percaya bahwa kelinci yang merumput di taman secara naluri akan menghindari tumbuhan yang beracun secara alami. Saya bisa buktikan tidak begitu, setelah memperhatikan kelinci mengunyah daun oleader. Kami menganjurkan membuat daftar semua tanaman yang tumbuh di taman anda dan periksa untuk tanaman yang beracun. Sebelum semua tanaman beracun dihilangkan dari taman, kelinci anda harus dijaga dalam rumah atau di taruh di dalam kandang. Bahaya racun lainya adalah pupuk dan pestisida yang dipakai untuk rumput atau taman.
Diluar rumah juga mempunyai bahaya yang lain, khususnya untuk fisik kelinci. Semua kelinci yang tidak dapat membersihkan bulunya secara menyeluruh dari air kecing dan kotoran akan retan terhadap serangan lalat, kondisi yang mengancam kehidupannya. Pencegahan diperlukan dengan pemeriksaan satu dua kali sehari untuk kelinci yang beresiko tinggi dan pembersihan dan pengeringan bulu yang basah atau kotor secara rutin.
Serangga lainnya yang mengancam kelinci luar rumah. Kutu loncat/pinjal (flea) jika dibiarkan berkembang biak di taman dapat menyebabkan kelinci terkena flea anemia. Di beberapa area, myxomatosis, virus yang mematikan dapat ditularkan ke kelinci melalui gigitan serangga

Rabu, 23 April 2014

Resep dan Cara Memasak Kepiting Saos Pedas

Kepiting memang sekarang ini tengah menjadi primadona disetiap restoran besar. Baik di hotel-hotel ataupun di tempat rekreasi kepiting tetap menjadi menu utama. Harganya pun juga tidak main-main, apalagi kalau sudah dimasak oleh chef yang kenamaan. Dijamin harganya akan selangit, karena memang jaminan rasa sudah terbukti.
Disamping itu umasakan ini bisa didampingi dengan kripik yang gurih serta renyah, sobat bisa membuatnya sendiri silahkan dibaca pada laman resep dan cara membuat kripik tempe renyah, juga bisa disandingkan dengan makanan penutup brownies dengan resep di Resep Brownies Dan Cara Membuat Brownies.
7cca4f7c03d2e8663aab4898e58d141a_kepiting-saos-pedas
Bagi kalian yang ingin menikmati kepiting tidaklah harus pergi ke restoran besar untuk menyantapnya. Kalian bisa membuatnya sendiri di rumah, tinggal siapin segala sesuatunya dan resepnya lalu kerjakan. Memang banyak dari kita yang masih bingung bagaimana cara memasak kepiting tersebut. Untuk membantu kalian memasak kepiting kali ini kami akan menuliskan resep dan cara memasak kepiting saos pedas untuk kalian, silahkan disimak :
>> Bahan :
- 2 ekor kepiting
- 2 siung bawang putih, cincang
- 4 buah cabai merah, iris
- 200 ml air kaldu
- 1 sendok teh jahe parut
- 5 sendok makan saus tomat
- 2 sendok makan saus sambal
- 1 sendok makan kecap asin
- 1/2 sendok teh minyak wijen
- 1/2 sendok teh merica bubuk
- 1 sendok makan tepung maizena, tambahkan sedikit air
- 1 batang bawang prai, iris
- Minyak goreng
- Garam secukupnya
- Gula pasir secukupnya
>> Cara Memasak Kepiting Saos Pedas:
- Yang pertama tentu saja bersihkan dulu kepiting sampai benar-benar bersih.
- Setelah itu, gorenglah kepiting itu hingga berubah warna menjadi kemerahan, kemudian angkat kemudian tiriskan.
- Kemudian tumis bawang putih, jahe dan cabai merah hingga berbau harum. Kalau bumbu sudah harum, masukkan saus tomat , saus sambal, kecap asin , minyak wijen dan kaldu. Kemudian masak sampai mendidih.
- Setelah itu masukkan kepiting yang telah digoreng tadi sambil di aduk.
- Kemudian tambahkan garam, gula pasir dan merica bubuk, aduk sampai merata.
- Kecilkan api dan masak sampai matang dan bumbu bisa meresap.
- Kentalkan kuah dengan larutan tepung maizena, tambahkan daun bawang . Masak sebentar.
- Angkat dan sajikan.

http://tipskecantikanwanita.blogdetik.com/resep-dan-cara-memasak-kepiting-saos-pedas/

Cara Menjinakkan Sugar Glider

Cara menjinakkan Sugar Glider: Setelah kamu memutuskan serius untuk memelihara Sugar Glider. Hal pertama yang dilakuin tentu ngebiasain hewan Sugar Glider beradaptasi dengan kamu. 

  • Cara simpel pertama adalah dengan bau keringat bada kita. Yay~ Usahakan terus Sugar Glider itu mengingat-ingat bau keringat kita. Hewan ini termasuk peka dalam ingatan loh. Dengan memakai semisal sapu tangan bekas keringat kita yang dimasukkan ke dalam kandang sugar glider, ini bisa mengenalkan kita kepadanya. Atau bisa juga membawa SG ini ke mana pun dengan memasukkan bonding pouch.
  • Yang kedua prosesnya ialah memberi makan SG dengan tangan kita. Ngasih makan sugar glider secara perlahan-lahan, jangan terlalu cepat ya. Atau menarik tangan secara cepat saat memasukkan makanan ke dalam kandang. Karena itu bisa diartikan SG kalau kita takut padanya.
  • Dan cara yang biasanya ngebikin SG lebih jinak kepada kita adalah membiarkan SG menggigit. Memang butuh keberanian. Sodorin ibu jari dengan posisi kuku terbalik deh. SG nantinya akan menggigit ibu jari kita. Ulangi terus prosesnya tiap hari. Nanti lama kelamaan SG akan merasa bosan untuk menggigit ibu jari kita.

Nah. Kalau sugar glider sudah tenang dan terbiasa dengan kita. SG biasanya akan bisa diajak bermain dengan kita.

Makanan Sugar Glider:  
  • Beri makan bubur bayi rasa buah pisang, dibuat kental. Bubur bayi yang terlalu cair akan membuat sugar glider mengalami diare.
  • Setiap seminggu sekali beri buah yang rasanya manis, seperti pepaya, pisang, rambutan, atau lengkeng.
  • Setiap sebulan sekali beri jangkrik dan serangga untuk menjaga asupan kalsium dan protein sugar glider.
Catatan penting ya. Sugar Glider itu cepat bosan dengan menu makanannya. Jadi ya memang harus variatif gitu untuk makanan sugar glider. Dan teliti juga makanan apa yang dia suka.

Kandang Sugar Glider:
  • Sugar Glider (SG) sangat menyukai aktivitas memanjat dan melompat, kandang semakin besar dan tinggi akan semakin bagus. Di dalam kandang sebaiknya diletakkan cabang/dahan-dahan pohon agar SG bisa memanjat dan bermain-main.
  • Letakkan juga kotak sarang agar SG bisa bersembunyi. Selain itu, kandang bisa dilengkapi dengan mainan seperti wheel untuk hamster dan mainan-mainan lainnya agar SG bisa bermain-main.
  • Hindari penempatan di ruangan ber-AC. Kalau terpaksa di ruangan ber-AC, taruhlah pouch / hidding biar hangat.
  • Sering ajak main ke luar kandang apabila sudah jinak.

http://www.raskancut.com/2013/06/cara-perawatan-menjinakkan-sugar-glider.html

Selasa, 22 April 2014

R.A kartini - in english


Raden Ajeng Kartini
COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Raden Ajeng Kartini TMnr 10018776.jpg
Portrait of Raden Ajeng Kartini (collectionTropenmuseum
Born21 April 1879
JeparaCentral JavaDutch East Indies (Indonesia)
Died17 September 1904 (aged 25)
RembangCentral JavaDutch East Indies (Indonesia)
Other namesRaden Ajeng Kartini
Known forWomen's emancipation; national heroine
ReligionIslam
Spouse(s)Raden Adipati Joyodiningrat
Raden Ayu Kartini, (21 April 1879 – 17 September 1904), or sometimes known as Raden Ajeng Kartini, was a prominentJavanese and an Indonesian national heroine. Kartini was a pioneer in the area of women's rights for Indonesians

Biography

Kartini was born into an aristocratic Javanese family when Java was part of the Dutch colony of the Dutch East Indies. Kartini's father, Sosroningrat, became Regency Chief of Jepara. Kartini's father, was originally the district chief of Mayong. Her mother, Ngasirah was the daughter of Madirono and a teacher of religion in Teluwakur. She was his first wife but not the most important one. At this time,polygamy was a common practice among the nobility. She also wrote the Letters of a Javanese Princess. Colonial regulations required a Regency Chief to marry a member of the nobility. Since Ngasirah was not of sufficiently high nobility,[2] her father married a second time to Woerjan (Moerjam), a direct descendant of the Raja of Madura. After this second marriage, Kartini's father was elevated to Regency Chief of Jepara, replacing his second wife's own father, Tjitrowikromo.
Kartini was the fifth child and second eldest daughter in a family of eleven, including half siblings. She was born into a family with a strong intellectual tradition. Her grandfather, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, became a Regency Chief at the age of 25 while Kartini's older brother Sosrokartono was an accomplished linguist. Kartini's family allowed her to attend school until she was 12 years old. Here, among other subjects, she learnt to speak Dutch, an unusual accomplishment for Javanese women at the time.[3] After she turned 12 she was 'secluded' at home, a common practice among Javanese nobility, to prepare young girls for their marriage. During seclusion girls were not allowed to leave their parents' house until they were married, at which point authority over them was transferred to their husbands. Kartini's father was more lenient than some during his daughter's seclusion, giving her such privileges as embroidery lessons and occasional appearances in public for special events.
During her seclusion, Kartini continued to educate herself on her own. Because she could speak Dutch, she acquired several Dutch pen friends. One of them, a girl by the name ofRosa Abendanon, became a close friend. Books, newspapers and European magazines fed Kartini's interest in European feminist thinking, and fostered the desire to improve the conditions of indigenous Indonesian women, who at that time had a very low social status.
Kartini's reading included the Semarang newspaper De Locomotief, edited by Pieter Brooshooft, as well as leestrommel, a set of magazines circulated by bookshops to subscribers. She also read cultural and scientific magazines as well as the Dutch women's magazine De Hollandsche Lelie, to which she began to send contributions which were published. Before she was 20 she had read Max Havelaar and Love Letters by Multatuli. She also read De Stille Kracht (The Hidden Force) by Louis Couperus, the works ofFrederik van EedenAugusta de Witt, the Romantic-Feminist author Goekoop de-Jong Van Eek and an anti-war novel by Berta von SuttnerDie Waffen Nieder! (Lay Down Your Arms!). All were in Dutch.
Kartini's concerns were not only in the area of the emancipation of women, but also other problems of her society. Kartini saw that the struggle for women to obtain their freedom, autonomy and legal equality was just part of a wider movement.
Kartini with Joyodiningrat
Kartini's parents arranged her marriage to Joyodiningrat, the Regency Chief of Rembang, who already had three wives. She was married on the 12 November 1903. This was against Kartini's wishes, but she acquiesced to appease her ailing father. Her husband understood Kartini's aims and allowed her to establish a school for women in the east porch of the Rembang Regency Office complex. Kartini's only son was born on 13 September 1904. A few days later on 17 September 1904, Kartini died at the age of 25. She was buried in Bulu Village, Rembang.
Inspired by R.A. Kartini's example, the Van Deventer family established the R.A. Kartini Foundation which built schools for women, 'Kartini's Schools' in Semarang in 1912, followed by other women's schools in SurabayaYogyakartaMalangMadiunCirebon and other areas.
Commemoration of Kartini Day in 1953
In 1964, President Sukarno declared R.A. Kartini's birth date, 21 April, as 'Kartini Day' - an Indonesian national holiday. This decision has been criticised. It has been proposed that Kartini's Day should be celebrated in conjunction with Indonesian Mothers Day, on 22 December so that the choice of R.A. Kartini as a national heroine would not overshadow other women who, unlike R.A. Kartini, took up arms to oppose the colonisers.
In contrast, those who recognise the significance of R.A. Kartini argue that not only was she a feminist who elevated the status of women in Indonesia, she was also a nationalist figure, with new ideas, who struggled on behalf of her people and played a role in the national struggle for independence.

Letters

After Raden Adjeng Kartini died, Mr J. H. Abendanon, the Minister for Culture, Religion and Industry in the East Indies, collected and published the letters that Kartini had sent to her friends in Europe. The book was titled Door Duisternis tot Licht (Out of Dark Comes Light) and was published in 1911. It went through five editions, with some additional letters included in the final edition, and was translated into English by Agnes L. Symmers and published under the title Letters of a Javanese Princess.
The publication of R.A. Kartini's letters, written by a native Javanese woman, attracted great interest in the Netherlands and Kartini's ideas began to change the way the Dutch viewed native women in Java. Her ideas also provided inspiration for prominent figures in the fight for Independence.
There are some grounds for doubting the veracity of R.A. Kartini's letters. There are allegations that Abendanon made up R.A. Kartini's letters. These suspicions arose because R.A. Kartini's book was published at a time when the Dutch Colonial Government were implementing 'Ethical Policies' in the Dutch East Indies, and Abendanon was one of the most prominent supporters of this policy. The current whereabouts of the vast majority of R.A. Kartini's letters is unknown. According to the late Sulastin Sutrisno, the Dutch Government has been unable to track down J. H. Abendanon's descendants.

Ideas... Condition of Indonesian women

In her letters, Raden Adjeng Kartini wrote about her views of the social conditions prevailing at that time, particularly the condition of native Indonesian women. The majority of her letters protest the tendency of Javanese Culture to impose obstacles for the development of women. She wanted women to have the freedom to learn and study. R.A. Kartini wrote of her ideas and ambitions, including Zelf-ontwikkeling, Zelf-onderricht, Zelf-vertrouwen, Zelf-werkzaamheid and Solidariteit. These ideas were all based on Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid, that is, belief in God, wisdom, and beauty, along with Humanitarianisme (humanitarianism) and Nationalisme (nationalism).
Kartini's letters also expressed her hopes for support from overseas. In her correspondence with Estell "Stella" Zeehandelaar, R.A. Kartini expressed her desire to be like a European youth. She depicted the sufferings of Javanese women fettered by tradition, unable to study, secluded, and who must be prepared to participate in polygamous marriages with men they don't know.

Vegetarian lifestyle

It is known from her letters dated October 1902 to Abendanon and her husband that at the age of 23, Raden Adjeng Kartini had a mind to live a vegetarian life. "It has been for sometime that we are thinking to do it (to be a vegetarian), I have even eaten only vegetables for years now, but I still don't have enough moral courage to carry on. I am still too young." R.A. Kartini once wrote.
She also emphasized the relationship between this kind of lifestyle with religious thoughts. She also quoted, "Living a life as vegetarian is a wordless prayer to the Almighty."[4]

Further studies and teaching

Raden Adjeng Kartini loved her father deeply although it is clear that her deep affection for him became yet another obstacle to the realisation of her ambitions. He was sufficiently progressive to allow his daughters schooling until the age of 12 but at that point the door to further schooling was firmly closed. In his letters, her father also expressed his affection for R.A. Kartini. Eventually, he gave permission for R.A. Kartini to study to become a teacher in Batavia (now Jakarta), although previously he had prevented her from continuing her studies in the Netherlands or entering medical school in Batavia.
R.A. Kartini's desire to continue her studies in Europe was also expressed in her letters. Several of her pen friends worked on her behalf to support Kartini in this endeavour. And when finally Kartini's ambition was thwarted, many of her friends expressed their disappointment. In the end her plans to study in the Netherlands were transmuted into plans to journey to Batavia on the advice of Mrs. Abendanon that this would be best for R.A. Kartini and her younger sister, R.Ayu Rukmini.
Nevertheless, in 1903 at the age of 24, her plans to study to become a teacher in Batavia came to nothing. In a letter to Mrs. Abendanon, R.A. Kartini wrote that the plan had been abandoned because she was going to be married... "In short, I no longer desire to take advantage of this opportunity, because I am to be married..". This was despite the fact that for its part, the Dutch Education Department had finally given permission for R.A. Kartini and R.Ay. Rukmini to study in Batavia.
As the wedding approached, R.A. Kartini's attitude towards Javanese traditional customs began to change. She became more tolerant. She began to feel that her marriage would bring good fortune for her ambition to develop a school for native women. In her letters, R.A. Kartini mentioned that not only did her esteemed husband support her desire to develop the woodcarving industry in Jepara and the school for native women, but she also mentioned that she was going to write a book. Sadly, this ambition was unrealised as a result of her premature death in 1904 at the age of 25.

Kartini Day

Sukarno's Old Order state declared 21 April as Kartini Day to remind women that they should participate in "the hegemonic state discourse of perkembangan (development)".[5]After 1965, however, Suharto's New Order state reconfigured the image of Kartini from that of radical women's emancipator to one that portrayed her as dutiful wife and obedient daughter, "as only a woman dressed in a kebaya who can cook."[6] On that occasion, popularly known as Hari Ibu (Mother) Kartini or Mother Kartini Day, "young girls were to wear tight, fitter jackets, batik shirts, elaborate hairstyles, and ornate jewelry to school, supposedly replicating Kartini's attire but in reality wearing an invented and more constricting ensemble than she ever did."[7]
"Ibu Kita Kartini" by W.R. Supratman

X:173
L:1/4
M:4/4
K:C
Q:1/4=120
C3/2D/2EF|G3/2E/2C2|A3/2c/2BA|G3|\
F3/2A/2GF|E2C2|D3/2F/2ED|C3|\
F3/2E/2FA|G/2A/2G/2E/2CE|DEFG|E3|\
F3/2E/2FA|G/2A/2G/2E/2CE|DFB,D|C3|

see also 

Notes

  1. Jump up
    ^ Raden Ayu was a title borne by married women of the priyayi or Javanese nobles of the Robe class
  2. Jump up
  3. Jump up
    ^ "RA. Kartini". Guratan Pena. April 27, 2006. Retrieved 2013-03-17.
  4. Jump up
    ^ Lukas Adi Prasetya (2010-04-21). "Siapa Menyangka RA Kartini Vegetarian". Kompas.com. Retrieved 2013-03-17.
  5. Jump up
  6. Jump up
    ^ Yulianto, Vissia Ita (21 April 2010). "Is celebrating Kartini’s Day still relevant today?"The Jakarta Post. Retrieved 15 March 2013.
  7. Jump up
    ^ Ramusack, Barbara N. (2005). "Women and Gender in South and Southeast Asia". In Bonnie G. Smith. Women's History in Global Perspective. University of Illinois Press. pp. 101–138 [129]. ISBN 978-0252029974. Retrieved 15 March 2013.

References

  • Raden Adj. Kartini (1912), Door duisternis tot licht, with a foreword by J.H. Abendanon, The Hague
  • M.C. Van Zeggelen (1945), "Kartini", J.M. Meulenhoff, Amsterdam (in Dutch)
  • Raden Adjeng Kartini (1920), Letters of a Javanese princess, translated by Agnes Louise Symmers with a foreword by Louis Couperus, New York: Alfred A. Knopf, ISBN 0-8191-4758-3 (1986 edition), ISBN 1-4179-5105-2 (2005 edition)
  • M.Vierhout (1942), "Raden Adjeng Kartini", Oceanus, Den Haag (in Dutch)
  • F.G.P. Jaquet (red.), Kartini (2000); Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya. 3rd edition. Jakarta: Djambatan, xxii + 603 pp.
  • Elisabeth Keesing (1999), Betapa besar pun sebuah sangkar; Hidup, suratan dan karya Kartini. Jakarta: Djambatan, v + 241 pp.
  • J. Anten (2004), Honderd(vijfentwintig) jaar Raden Adjeng Kartini; Een Indonesische nationale heldin in beeld, Nieuwsbrief Nederlands Fotogenootschap 43: 6-9.

R.A Kartini

Ana Listiya Wardani
10212721 - 2ea20
Biografi R.A Kartini - Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang 
tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Referensi :
- http://chrissanta.wordpress.com
- http://www.dapunta.com/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html